add n follow me
 
A. Pewarna Alami

Banyak warna cemerlang yang dipunyai oleh tanaman dan hewan dapat digunakan sebagai pewarna untuk makanan. Beberapa pewarna alami ikut meyumbangkan nilai nutrisi (karotenoid, riboflavin dan kobalamin), merupakan bumbu (kunir dan paprika) atau pemberi rasa (karamel) kebahan olahannya.

B. Pewarna Sintesis

Suatu zat pewarna buatan yang akan dipergunakan harus melalui pengujian dan prosedur penggunaannya, yang dikenal dengan nama sertifikasi. Prroses sertifikasi ini meliputi pengujian kimia, biokimia, toksikologi dan analisis media terhadap zat warna tersebut.

Proses pembuatan zat warna sintetis biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang seringkali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun.

Di Indonesia, peraturan mengenai penggunaan zat pewarna yang diizinkan dan dilarang untuk pangan diatur melalui SK Menteri Kesehatan RI Nomor 722/Menkes/Per/lX/88 mengenai bahan tambahan pangan.

1. Dyes

Dyes adalah zat pewarna yang umumnya bersifat larut dalam air, sehingga larutannya menjadi berwarna dan dapat digunakan untuk mewarnai bahan. Pada umumnya penggunaan dyes dilakukan untuk mewarnai roti dan kue, produk-produk susu, kulit sosis, kembang gula, drymixes, minuman ringan, minuman berkarbonat, dan lain-lain.

2. Lakes

Zat pewarna ini dibuat melalui proses pengendapan dan absorpsi dyes pada radikal (Al atau Ca) yang dilapisi dengan alumunium hidrat (alumina). Kandungan dyes dalam lakes disebut pure dyes contents (pdc). Lakes umumnya mengandung 10-40% dyes murni. Zat ini digunakan untuk produk-produk yang tidak boleh terkena air.

C. Efek Terhadap Kesehatan

Dr.Kinosita, dengan percobaannya pada beberapa ekor tikus telah melihat adanya efek karsinogenik pada iritasi kimia. Dari pengaruh iritasi tersebut, diketahui berkembang tumor hati, dan dapat dipastikan pula tikus tersebut mengalami kanker hati.

D. Analisis Bahan Pewarna Sintesis

1. Teknik analisis sederhana

Teknik ini dengan menggunakan peralatan yang sederhana, seperti gelas, air dan kertas saring. Metode ini dapat dikerjakan maupun di lapangan. Keuntungan penting dari metode ini adalah karena cara analisisnya tidak membutuhkan ketersediaan zat pewarna standar apapun.

Prinsip kerjanya adalah kromatografi kertas dengan pelarut air. Keunggulan lain dari metode sederhana tersebut  idak diperlukannya standar pembanding, kecuali ingin mendeteksi zat marna apa.

2. Analisis zat warna yang dilarang

a. Cara reaksi (SNI, 1992)

Cara reaksinya dilakukan dengan cara menambahkan pereaksi-pereaksi berikut : HCl pekat, H2SO4 pekat, NaOH 10%, dan NH4OH 10%. Lalu amati reaksi apa yang terjadi.

b.      Cara kromatografi kertas

sejumlah cuplikan 30-50 g ditimbang dalam gelas kimia 100ml, tambahkan asam asetat encer kemudian masukan benang wool bebas lemak secukupnya, panaskan diatas api kecil selama 30 menit sambil diaduk. Benang wool dipanaskan dari larutan dan dicuci dengan air dingin hingga bersih. Larutkan pewarna bersama benang wool, Totolkan larutan berwarna pada kertas kromatografi, juga totolkan zat warna pembanding yang cocok. Keringkan kertas kromatografi di udara pada suhu kamar. Amati bercak-bercak yang timbul.

 
 
A. Jenis Bahan Pengawet

1. Zat pengawet Anorganik

Zat pengawet anorganik yang masih sering dipakai adalah sulfit, hydrogen peroksida, nitrat dan nitrit. Sulfit digunakan dalam dalam bentuk gas SO2, garam Na atau K sulfit, bisulfit, dan metabisulfit. Bentuk efektifnya sebagai pengawet adalah asam sulfit yang tidak terdisosiasi dan terutama bentuk pH dibawah 3.

Selain sebagai pengawet, sulfit dapat berinteraksi dengan gugus karbonil. Hasil reaksi itu akan mengikat melanoidin sehingga mencegah timbulnya warna cokelat. Sulfur dioksida juga dapat berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan daya kembang terigu.

Penggunaan bahan ini menjadi semakin luas karena manfaat nitrit dalam pengolahan daging. Selain sebagai pembentuk warna dan bahan pengawet, anti mikroba, juga berfungsi sebagai pembentuk factor sensori lain, yaitu aroma dan cita rasa.

Penggunaan Na-Nitrit sebagai pengawet untuk mempertahankan warna daging atau ikan ternyata menimbulkan efek yang membahayakan. Nitrit dapat berkaitan dengan amino atau amida dalam membentuk turunan nitrosamine yang bersifat toksik.

2. Zat pengawet organic

Zat pengawet organic lebih banyak dipakai dari pada yang anorganik karena bahan ini lebih mudah dibuat. Zat kimia yang sering dipakai sebagai bahan pengawet ialah asam sorbet, asam propionate, asam benzoate, asam asetat dan epokside.

B. Sifat Anti Mikroba Bahan Pengawet

Dalam aksinya sebagai anti mikroba, bahan pengawet ini mempunyai mekanisme kerja untuk menghambat pertumbuhan mikroba bahkan mematikannya, diantaranya sebagai berikut :

1. Gangguan system genetic

2. Menghambat sintesa dinding sel atau membrane

Dinding sel merupakan senyawa yang kompleks, karena itu bahan kimia dapat bercampur dengan penyusun dinding sel sehingga akan mempengaruhi dinding sel dengan jalan mempengaruhi sinpengujiana komponen sederhana, penghambat polimerisasi penyusun dinding sel.

3. Penghambat enzim

Perubahan pH yang mencolok, pH naik turun, akan menghambat kerja enzim dan mencegah perkembangbiakan mikroorganisme.

4. Peningkatan nutrient esensial

Apabila suatu organism membutuhkan hanya sedikit nutrient dan apabila nutrient tersebut diikat, akan lebih sedikit berpengaruh pada organism disbanding dengan organism lain yang memerlukan nutrient tersebut dalam jumlah banyak. 
C. Mekanisme Kerja Bahan Pengawet

Mekanisme kerja senyawa anti mikroba berbeda-beda antara senyawa satu dengan yang lain, meskipun tujuan akhirnya sama yaitu menghambat atau menghentikan pertumbuhan mikroba.

1. Asam benzoate dan garamnya

Asam benzoate sangat efektif dalam menghambat pertumbuhan mikroba dalam bahan pangan dengan pH rendah, seperti sari buah dan minuman penyegar.

2. Asam propionate dan garamnya

Garam Na dan Ca dari asam propionate lebih efektif dalam pH rendah. Asam ini tidak mengalami disosiasi memiliki efektivitas pengawetan, tetapi sangat efektif untuk menghambat pertumbuhan kapang pada roti dan hasil olahan tepung lainnya serta efektif untuk mencegah pembentukan rope pada roti.

3. Asam sorbet dan garamnya

Kerja asam sorbet akan efektif pada pH rendah dan pada kondisi tidak terdisosiasi. Kerjanya selektif, yaitu mampu menghambat pertumbuhan mikroba yang tidak dikehendaki tanpa mengganggu pertumbuhan mikroba yang menguntungkan. Contohnya pada proses pematangan keju.

4. Belerang dioksida dan sulfit

Belerang dioksida pada pH 7 tidak memberikan penghambatan pada pertumbuhan kamir dan kapang.

5. Nitrit dan Nitrat

Nitrit dapat menghambat mikroorganisme dengan cara meniadakan katalisator respirasi yang mempunyai heme.

D. Tujuan Penggunaan Bahan Pengawet

Secara umum penambahan bahan pengawet pada pangan bertujuan sebagai berikut :

1. Menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk pada pangan

2. Memperpanjang umur simpan pangan

3. Tidak menurunkan kualitas gizi, warna, cita rasa, dan bau bahan pangan yang diawetkan

4. Tidak untuk menyembunyikan keadaan pangan yang berkualitas rendah

5. Tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang salah

6. Tidak digunakan untuk menyembunyikan kerusakan bahan pangan.

E. Persyaratan

1. Memberi arti ekonomis dari pengawetan

2. Digunakan hanya apabila cara-cara yang lain tidak mencukupi atau tidak tersedia

3. Memperpanjang umur simpan dalam pangan

4. Tidak menurunkan kualitas bahan pangan yang diawetkan

5. Mudah dilarutkan

6. Menunjukkan sifat-sifat antimikroba

7. Aman dalam jumlah yang diperlukan

8. Mudah ditentukan dengan analisis kimia

9. Tidak menghambat enzim-enzim pencernaan

10. Tidak mengalami dekomposisi

11.  Mudah dikontrol

12. Mempunyai spectra antimikroba yang luas.

F. Sifat-Sifat Kimia

Sifat bahan pengawet selain dapat mencirikan bahan pengawet yang bersangkutan, ternyata juga diperlukan untuk menentukan cara penggunaan bahan pengawet tersebut, terutama sifat kelarutannya.

Sifat-sifat bahan pengawet dapat meliputi sifat kimia dan sifat fisik. Sifat kimia antara lain struktur kimia atau rumus molekul dan harga pKa yang spesifik untuk setiap jenis bahan pengawet. Sedangkan sifat fisik antara lainpelarutan, baik dalam air, alcohol maupun minyak, bentuk bahan pengawet. Sebenarnya masih ada sifat lain bahan pengawet, yaitu rasa dan bau yang berbeda.

1. Asam benzoate dan garamnya

a. Asam benzoate

b. Natrium benzoate

c. Kalium benzoate

d. Kalsium benzoate

2. Ester para-hidroksi benzoate

a. Metil para-hidroksi benzoate

b. Propel-p-hidroksibenzoat

3. Aasam sorbet dan garamnya

a. asam sorbet

b. natrium sorbet

c. kalium sorbet

d. kalsium sorbet

4. asam propionate dan garamnya

a. asam propionat

b. natrium propionat

c. kalium propionat

5. nisin

G. Efek Terhadap Kesehatan

1. Bahan pengawet organik

Efek pengawet pangan terhadap kesehatan :

a. Asam benzoat dan garamnya

Pada penderita asma dan orang yang menderita urticaria sangat sensitif terhadap asam benzoat, jika dikonsumsi dalam jumlah besar akan mengiritasi lambung.

b. Asam sorbat dan garamnya

Asam sorbat kemungkinan memberikan efek iritasi kulit apabila langsung dipakai pada kulit.

c. Asam propionat dan garamnya

Dalam suatu laporan dinyatakan bahwa asam propionat dan garamnya mempunyai aktivitas antihistamin lokal.

d. Ester dari asam benzoat

Ester asam benzoat memberikan gangguan berupa reaksi yang spesifik.

e. Nisin

Berdasarkan penelitian, dinyatakan bahwa nisin tidak menimbulkan toksik.

2. Bahan pengawet anorganik

Suatu hasil penelitian menyatakan bahwa anak-anak pengidap asma ternyata hipersensitivitas atau intoleransinya terhadap bahan pengawet lebih kecil dibanding orang dewasa.  Pemakaian nitrit dan nitrat pada daging curing dan keju dengan dosis yang tinggi akan menyebabkan kanker.

H. Analisis Bahan Pengawet

1. Bahan pengawet anorganik

a. Analisis sulfit dalam bahan pangan

- Metode spektrofotometri

- Metode titrasi

- Metode yodimetri

b. Nitrit

- Metode griess l

c. Nitrat dan nitrit

- Metode xylenol

2. Bahan pengawet organik

a. Asam benzoat dan garamnya

- Kualitatif, metode yang digunakan :

· Uji dengan FeCl3

· Dengan cara destilasi uap

· Dengan menentukan Rt

- Kuantitatif, metode yang digunakan :

· Titrimetri tanpa pemanasan

· Ekstraksi dan titrimetri

· Metode titrasi

· Spektrofotometri

· Kromatografi gas

· Mettode HPLC

b. Asam ssorbat dan garamnya

1. Kualitatif, metode yang digunakan :

· Cara destilasi uap

· Kerok kromatogram pada TLC

· Spesifikasi

2. Kuantitatif, metode yang digunakan :

· Titrasi volumetri

· Metode spektofotometri

· Kromatografi gas

· Kromatografi cair

· Kromatografi cara isokratik

· Metode kromatografi kinerja tinggi

c. Potasium sorbat

d. Asam propionat dan garamnya

1. Kromatografi gas

2. Kromatografi cair

e. Ester dan asam benzoat

Kualitatif dan kuantitatif, metode yang digunakan : 

1. Metode kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) (SNI, 1992; SII, 1979; Farmakope Indonesia, 1995; perfetti; et al., 1981).

2. Metode kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) (perfetti, et al., 1981).

 
 
Picture
Definisi

Radang atau inflamasi adalah reaksi jaringan hidup terhadap semua bentuk jejas yang berupa reaksi vascular yang hasilnya merupakan pengiriman cairan, zat-zat yang terlarut dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan interstitial pada daerah cedera atau nekrosis (Robbins & Kumar, 1994). Tujuan inflamasi yaitu untuk memperbaiki jaringan yang rusak serta memper-tahankan diri terhadap infeksi (Soesatyo, 2002).

Tanda-tanda inflamasi adalah:
  1. Kemerahan (rubor) yaitu warna merah pada daerah jaringan yang radang atau warna merah-kemerahan,
  2. Panas (kalor) yaitu suhu pada jaringan yang mengalami peradangan bersuhu naik atau lebih panas,
  3. Nyeri (dolor) yaitu keluar nanah akibat pembengkakan pada jaringan yang mengalami radang sehingga terasa nyeri,
  4. Pembengkakan (tumor) yaitu pembengkakan pada jaringan yang mengalami radang (Soesatyo, 2002) dan,
  5. Function laesa yaitu jaringan yang meradang berfungsi tidak normal atau abnormal  (Chandrasoma dan Tailor, 1995).

Secara garis besar proses inflamasi dibagi menjadi 2 tahap :

a.       Inflamasi akut
Inflamasi akut adalah inflamasi yang terjadi segera setelah adanya rangsang iritan. Pada tahap ini terjadi pelepasan plasma dan komponen seluler darah ke dalam ruang-ruang jaringan ekstraseluler. Termasuk didalamnya granulosit neutrofil yang melakukan pelahapan (fagositosis) untuk membersihkan debris jaringan dan mikroba (Soesatyo, 2002).

b.      Inflamasi kronis
Inflamasi kronis terjadi jika respon inflamasi tidak berhasil memperbaiki seluruh jaringan yang rusak kembali ke keadaan aslinya atau jika perbaikan tidak dapat dilakukan sempurna (Ward, 1985).

Pengobatan :
antibiotik, analgesik dan antiinflamsi.

Sumber :

<a href="http://khairul-

http://www.google.co.id/gambar radang 
http://penyuluhan-kesehatan.blogspot.co


 
 
Picture
Definisi

Trichomoniasis adalah penyakit (wanita) yang disebabkan oleh infeksi protozoa Trichomonas vaginalis, yaitu protozoa patogen yang umumnya ditemukan pada saluran genita urinaria wanita, organisme ini dapat menyebabkan keputihan atau flour albus atau leucorrhoea, dan dalam kondisi yang lebih parah akan terjadi radang vagina atau vaginitis.

Penderita trichomoniasis dapat menularkan Trichomonas vaginalis pada pasangan seksualnya melalui hubungan kelamin dan akan menyebabkan terjadinya prostatitis atau uretritis non gonore pada pria.

Morfologi

Garcia dan Buckner (1996) menyebutkan bahwa Trichomonas vaginalis adalah suatu organisme eukaryotik yang termasuk kelompok Mastigophora, mempunyai flagel, dengan ordo Trichomonadida yang terdapat lebih dari 100 spesies, sebagian besar Trichomonas merupakan organisme komensal pada usus mamalia dan burung. Terdapat 3 spesies yang sering ditemukan pada manusia yaitu Trichomonas vaginalis yang merupakan parasit pada saluran genita urinaria, Trichomonas tenax merupakan trichomonas non pathogen yang ditemukan di rongga mulut dan gigi berlubang, serta Trichomonas hominis yang hidup non pathogen pada usus besar.

Nama Trichomonas vaginalis sebenarnya salah, karena tidak hanya ditemukan di uretra wanita tetapi tidak jarang ditemukan di uretra pria. Organisme ini berbentuk oval/fusiform, atau seperti buah pir dengan panjang rata-rata 15µm dengan tanda khas selalu berpindah tempat. Intinya terletak anterior, antara inti dan permukaan ujung yang lebih luas terdapat 1 atau lebih setruktur yang membulat yang disebut blepharoplasts dan dari tempat inilah keluar keempat flagel. Flagel kelima berbentuk membran bergelombang yang berasal dari kompleks kinetosomal dan terbentang sepanjang setengah dari organisme.

Trichomonas vaginalis tumbuh di lingkungan dengan suhu 35C-37C dengan pH antara 4,9-7,5. Trichomonas vaginalis tidak menyerang jaringan di sebelah bawah diding vagina, ia hanya ada di rongga vagina dan sangat jarang ditemui di tempat lain. Lingkungan vagina sangat disukai oleh organisme ini. Ada 3 kemungkinan timbulnya spectrum klinis yang berbeda pada penyakit ini , yaitu:
  1. Adanya variasi virulensi (kemampuan untuk menimbulkan infeksi) intrinsic diantara strain Trichomonas yang berbeda.
  2. Perbedaan kerentanan (peka) epitel vagina diantara penderita dan juga pada penderita yang sama pada waktu yang lama.
  3. Terdapat perbedaan  lingkungan mikro vagina yang mempengaruhi gejala klinisnya.

Pria yang terinfeksi Trichomonas vaginalis sebagian besar asimtomatik (tidak tampak gejala klinisnya) dan respon radang pada uretra pria biasanya tidak ditemukan, karena epitel kuboid pada uretra yang lebih resisten. Cara menghilangkan Trichomonas vaginalis dari saluran urogenital pria belum diketahui pasti, tetapi mungkin organisme hilang secara mekanik pada waktu buang air kecil dan adanya seng di dalam cairan normal prostat dapat dengan cepat membunuh Trichomonas vaginalis.

Patofisiologi

Trichomonas vaginalis menginfeksi sel epitel (dinding bagian dalam) vagina sehingga terjadi proses kematian sel hospes (host-cell-death). Komponen yang berperan dalam proses kematian sel tersebut adalah mikrofilamen dari Trichomonas vaginalis. Selama proses invasi, Trichomonas vaginalis tidak hanya merusak sel epitel namun juga eritrosit. Eritrosit mengandung kolesterol dan asam lemak yang diperlukan bagi pembentukan membran trichomonad. Proses pengikatan dan pengenalan trichomonad dengan sel epitel hospes melibatkan spesifik dari Trichomonas vaginalis, yang dikenal dengan sistein proteinase. Setelah proses pengikatan, akan timbul reaksi kaskade yang mengakibatkan sitoktosisitas dan hemolisis pada sel epitel vagina sehingga vagina mengeluarkan cairan putih berbau tidak sedap, vulva membengkak dan terasa nyeri serta gatal-gatal (keputihan/flour albus/ leucorrhoea), bahkan dalam kondisi lebih parah akan terjadi peradangan dan sangat gatal (vaginitis).

Penularan

Trichomonas vaginalis dapat menular melalui hubungan seksual, kloset duduk, handuk, air mandi dan cairan vagina. Pada kloset duduk dan handuk atau pada objek yang basah Trichomonas vaginalis dapat hidup selama 45 menit.

Gejala klinis

1.      Keputihan/flour albus/leucorrhoea (pada wanita)
Vagina terasa gatal, mengeluarkan secret yang encer berwarna kuning kehijauan, kadang-kadang disertai buih dengan bau yang abnormal, vulva yang kemerahan dan membengkak.

2.      Vaginitis (pada wanita)
Keputihan dengan kondisi yang lebih parah, juga sakit pada bagian dalam paha, labio mayora berdarah, sangat gatal dan perih.

3.      Uretritis (pada pria)
Kira-kira setengah dari kasus vaginitis trichomonalis juga mengenai uretra pria akibat hubungan seksual, keadaan ini sering disebut uretritis dan bersifat asimtomatik (tanpa gejala).

Pencegahan

  1. Jangan mencuci vagina dengan sabun, karena sabun bersifat basa.
  2. Gunakan celana dalam yang dapat menyerap keringat.
  3. Jangan biarkan vagina dalam kondisi lembab.
  4. Hindari penggunaan kloset duduk.
  5. Hindari pemakaian handuk secara bersama-sama.

sumber:

Zulkoni, Akhsin. 2011. Parasitologi. Yogyakarta: Nuha Medika.
http://www.google.co.id/gambar/trichomonas diakses 21 Juni 2012


 

    Archives

    March 2013
    June 2012

    Categories

    All